Kamis, 27 Juni 2013

CERPEN

Lek Man Mau Nyalon...
Oleh : Peacevirus Isme

Gendheng1 kamu lek! Sekarang tuh jaman edan, nek gak melu edan ora kedhuman 2 lha wong Pilkades aja bagi-bagi duit kok, masak mau nyalon dewan gak bagiin duit, mana mungkin jadi!” cerocos Bagas begitu saja, dia lantas menarik kembali sarung kumelnya. Disebelahnya Lek Man tenang, entah memikirkan mau melangkah kemana, dia mengusap rambutnya “skak!” teriaknya, “sekak mat” tawanya lepas menorehkan penghinaan pada Agus.
Koran bekas bungkus gorengan yang sedari tadi dibaca Sugeng tergeletak tertulis besar dalam koran itu “Indonesia Krisis Pemimpin”. Aku kemudian membidik mata rekan satu kampusku itu, “ngantuk Geng?” tanyaku. “bukan jamannya yang edan Gas! Tapi kau yang edan! Orang sudah benar-benar memikir masa depan kok kamu edan-edankan!” Sugeng menyambung. malam semakin larut, wajah kamipun semakin mengeriput.
Aku menyuruput kembali kopiku, “sruut” nikmat sekali. Bulan berbinar, purnama yang malam itu berpidar menerangi sudut-sudut kegelapan. “bagaimana menurut kamu Fud?” tatapan Lek Man mengarah padaku, sambil sedikit mengangkat kepalanya. “bagaimana apanya Lek?” tanggapku. “ya, tentang rencana pencalonanku menjadi anggota dewan itu lho Fud!” kali ini Lek Man memasang muka serius. Aku diam.
****
menjadi pejabat, menjadi wakil rakyat, membangun negara itu tak semudah menyeduh kopi lek! Yang tinggal mengira-kira kopi dan gulanya, lalu tambahkan air panas, diaduk lalu jadilah negara yang tentram, aman dan damai. Semua itukan ada hitungannya, bukan sekadar dua sendok gula dan satu sendok kopi untuk seratus mili air panas, tapi hitung-hitungan yang panjang, hitungan rumit dan hitungan yang matang. Rakyat sudah bosan dengan janji-janji para wakil rakyat yang tak pernah ditepati” aku ikut urun rembug.
Mahfud munafik, sok tau kamu! Itukan karena kamu selalu susah payah buat bayar kost mu! Coba jika kamu tinggal duduk-duduk di bangku dewan, pekerjaanmu tinggal sidang ini-itu di gaji besar pula, kamu mungkin akan lupa dengan amanah sesungguhnya. Pokoknya penguasa segalanya adalah uang Fud! Semua dapat di bayar dengan uang!” Sanggah Bagas dari balik sarungnya.
semua orang kalau masih susah ya ngomong yang baik-baik, coba saja kalau sudah sukses atau menjadi orang kaya, dia bakalan lupa dengan semua tanggung jawabnya” lanjut Bagas.
Bagas memang orang yang kolot, kaku dan tak kenal perubahan. Dalam setiap argumennya, dia tak pernah melepaskan kekuatan uang yang sebagai pokok dari segalanya, mungkin karena ia pernah gagal nyalon polisi setelah memasukkan uang dua ratus juta, padahal dia sudah lulus atas semua tesnya tapi tetap gagal, saat kutanya kenapa, namaku di tembak 250 juta oleh orang lain jawabnya.
ya..itu yang mau kulakukan Fud, aku ingin membuktikan bahwa diriku mampu membawa daerah kita ini kearah yang lebih baik. Kemana? Ya..Dimana bangsa ini mampu untuk memabawa masyarakat ke dalam jaman yang baik” ujar Lek Man yang masih memasang wajah serius.
kemana... kemana... kemana..., seperti lagunya Ayu ting-ting aja lek!” Guyonan Sugeng kemudian memecah suasana.
yang jelas lek... aku akan mendukung niat baik Lek Man itu, tapi kata Bagas itu juga tak bisa disalahkan, korupsi model money politic3 sudah menjadi budaya di negri kita ini, budaya yang tak bisa di musnahkan” lanjut Sugeng dengan wajahnya menahan kantuk.
Sugeng wataknya memang ramah, dia mudah bergaul dengan siapapun, murah senyum dan pandai menjaga perasaan. Ayahnya seorang carik4 yang dulu sewaktu mau memperoleh jabatan itu juga membagi-bagikan uang ke warga, mungkin karena sebab itu dia lebih condong membenarkan ucapan Bagas.
Sementara purnama gelap tertutup mega hitam, Agus malah sibuk menata pion-pion caturnya, ia taruh pion-pion rakyat di barisan paling depan, satu pion ia taruh satu kotak lebih depan, ia tak menoleh sedikitpun ke wajah-wajah serius kita, justru asyik dengan papan caturnya.
jalan Lek!” sentaknya
jalan kemana Gus! Ke kursi DPD?” saut Lek Man
Jalanin tuh pionnya!” jawab Agus polos. Sontak kamipun tertawa bersama.
****
Mendung telah menjadi gerimis, Lek Man menahan kebimbangannya, ia rabahkan tubuhnya dalam pos rondan reot ini, berpayung jerami ia sembunyikan tubuhnya dari serbuan gerimis yang semakin deras. Sugeng membereskan gelas-gelas yang berisi ampas kopi, sebelum hujan kian menjadi, kusempatkan menengok arloji yang melingkar di tangaku, 01:00. Lalu kupandangi juga jam yang menepel di dinding pos .01:00 tepat.
gong !..” bunyi gong menggema, cukup ku pukul satu kali saja pertanda sudah masuknya jam satu dini hari.
nggak ngrondan nih? “ tanyaku pada semuanya
ngrondan aja sendiri” sahut Agus setelah merapikan papan caturnya. Kupandangi satu persatu wajah teman-temanku,
ujan-ujan mau ngronda apaan Fud” tegas Agus yang kemudian menyamankan posisi tidurnya.
****
Aku lantas beranjak, menyibak gerimis tanpa berpayungkan sehelai daunpun. Melangkah menitik setiap rumah-rumah barangkali ada keadaan darurat sekalian melangkah pulang. Didalam sepi, otak dan hatiku saling merembug, ada harapan sekaligus kekhawatiran, harapan akan hadirnya Lek Manku yang benar-benar mampu menjadi wakil rakyat yang setulus hati mengabdi untuk rakyat, serta kekhawatiran akan tumbuh suburnya golongan Lek Man baru yang masih suka menaruhkan jabatan dan kekuasaan semata-mata untuk alat pencetak uang.
Bunyi jangkrik, belalang dan spesies lainnya menjadi sebuah irama merdu untuk mengiringi kejamnya malam, gemericik gerimis rintik-rintik menambah dinginnya gelap kala itu. Menjadi sebuah derita tersendiri bagi petugas ronda ketika hujan begini, terpaksa mereka tetap harus melawan dingin untuk tetap berjaga demi keamanan kampung. Padahal setelah lewat tengah malam teman-temanku yang bertugas di pos ronda pulas tidur, lupa dengan tanggung jawab sebagai penjaga kampung. Mungkin hal seperti inilah yang terjadi di negri ini, Indonesia sudah lama hidup seperti malam. Gelap. Deru masalah, seperti bencana alam, kemiskinan, kelaparan,pendidikan dan kesehatan serta persoalan lainnya seolah seperti gerimis yang menjadikan malam semakin kalut. Dimana dalam keaadaan yang ironi itu tak membuat penjaga pos rondan yang dalam artian penjaga negara bukan semakin kiat menjaga negara melainkan malah semakin asyik memasang posisi paling nyaman buat tidur. Ya mungkin seperti itulah gambaran kecilnya. Benakku . “entahlah..”

Djombang,
12.06.2013 lewat tengah malam
1.Gila (jawa)
2 jamannya sudah gila, kalu tidak ikut gila tidak kebagian ( pepatah jawa)
3 money politic : politik uang
4 carik : sekretaris desa

Peacevirus isme adalah nama pena dari Ali Mahfud, lahir di Pati, 06 Mei 1994, anak dari pasangan Bapak Alm. Sutimin dengan Ibu Musriah. Alumni dari MA Khoiririyah Sitiluhur Pati dan sekarang sedang menempuh S1 di UNDAR Jombang. Aktif sebagai divisi kaderisasi FLP Cabang Pati. Beberapa tulisannya adalah “sakarotul maut” dalam Antalogi Merpati Putih (Leutika Prio), Cara Tuhan Menyapa Dalam koran Kabar Pesisir,Belajar dari Warung Kopi dalam Antalogi Bumi Senja di Hariku (Leutika Prio) serta Kau dan Batikmu dalam Antalogi Muadzin Gunung Kendheng (Diandra Creative).Selain aktif menulis, penulis juga hobi menularkan virus perdamaian ke seluruh penjuru dunia. Peace!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar