Kamis, 13 Juni 2013

CERPEN


Di ranah kehidupan yang serba modern ini,   tak menutup kemungkinan dunia ghaib ikut berorientasi di dalamnya, sebagai muslim kita hendaknya mempercayai keberadaannya. Tetap jaga hati dan bentengi diri dengan memperbanyak ibadah.
Dia ‘Hawa’ku

(Aku Khitbah Engkau dengan Khataman Al-Qur’an)

            Hawa, gadis cantik nan anggun berparas elok bak titisan bidadari ini membuat semua mata terpukau oleh sinarnya. Mentari pun iri dengan sinar yang dimiliki oleh peri tak bersayap ini. Dara yang menginjak usianya yang ke 17 tahun ini bagai bunga yang baru mekar dengan sempurna. Kini dia duduk di kelas Sembilan, walaupun dia bersekolah di SMA tapi dia tak pernah meninggalkan jilbab suci yang menyelimuti rambut indahnya. Jilbab itu dikenakan bukan karena medis, yang mengharuskan dia memakai jilbab karena suatu penyakit di kepala, bukan juga karena modis atau pun akademis, namun karena kewajibannya sebagai seorang muslim yang harus menutup auratnya. Walaupun dia bukan keturunan kyai, namun dia selalu menjujung tinggi nilai agama. Nilai agama ia peroleh dari guru agama di sekolah juga dari guru ngajinya yang menganak emaskan dia karena kepandaian dan kecerdasannya.
            Banyak teman yang menyukainya, bukan hanya lawan jenis, teman-teman wanita juga menyukainya karena kesederhanaan dan kebaikannya.  Terlebih teman laki-laki, banyak yang menyukai dan mencoba mendekatinya, namun belum ada yang bisa mencuri hatinya. Tak semudah yang mereka bayangkan, mendapatkan hati Hawa bagaikan menunggu hujan di gurun pasir. Bukan maksudnya untuk pilih-pilih teman lelaki, tapi dia menginginkan teman lelaki seperti yang di inginkan ayahnya. Walaupun baru kelas Sembilan, tapi kebiasan orang desa untuk menikahkan anaknya setelah lulus SMA sukar untuk dimusnahkan. Maka dia mencari teman lelaki bukan untuk main-main, tetapi untuk dijadikan pendamping hidupnya kelak.
            Tak bisa  mengingkari kepatuhan terhadap orang tuanya, dia selalu menjunjung tinggi ucapan dan keputusan orang tuanya, telebih sang ayah yang menginginkan seorang menantu yang hafidz (hafal Al-qur’an 30 juz). Faktor itulah yang melatar belakangi Hawa untuk menemukan dambaan hati yang hafidz. Hawa menyayangi keluarganya lebih dari dia menyayangi dirinya sendiri. Sempat dia tertarik kepada teman sekelasnya, namun tak pernah ia tunjukan meski melalui isyarat mata sekalipun. Matanya tak mampu berbicara untuk mengungkapkan isi hati, karena kepatuhan terhadap sang ayah yang diidolakannya.
            Hari itu, ketika perpisahan sekolah suasana hati Hawa nano-nano rasanya, senang, bahagia, sedih, mix pengen cucurkan air mata. Tak tau gerangan yang mengganjal dan bergejolak di hatinya, namun kesedihan itu semakin mendera. 
           “Hawa...”, suara mengejutkan datang dari arah belakang tempat dia duduk.
           “Hem, iya, iya, iya”, sahutnya terbata-bata karena kaget. Seorang lelaki tampan berdiri di hadapannya sembari suguhkan senyum hangat damaikan jiwa. 
           “Owh, Farid to, mengagetkanku saja”. Kata Hawa dengan balasan senyum yang tak kalah hangat.  
           “Kenapa kamu duduk sendiri di sini, Wa? Tak inginkah kau berfoto-foto ria dengan teman-temanmu?” Tanya Farid. 
           “Iya, aku bingung, semestinya harus senang atau sedih?” kata Hawa, kembali bertanya. 
           “Tak perlu kau berbingung di sini, ada pertemuan pasti ada perpisahan, dan sebaliknya. Jika tak ada pertemuan maka tak ada perpisahan, kalau waktunya senang engkau malah bersedih, apalagi diwaktu sedih, kesedihanmu akan bertambah, lalu kapan waktunya kau bersenang-senang, nikmati saja hari ini. Bukankah harus begitu?” Ujar Farid dengan memegang tangan Hawa namun segera ia lepaskan. 
            “Ehm,,” sahut Hawa sambil anggukkan kepala, dalam hati ia berbisik, Farid yang terkenal anak paling nakal, bisa disebut brandal sekolahan, tukang bikin rusuh bisa melontarkan kata yang membuat si cantik Hawa kikuk. 
            “Kenapa bengong? Oh ya, ini hadiah kecil dariku, bukankah kau suka dengan warna hijau, warna surga bukan? Kamu boleh membukanya ketika di rumah. Tak begitu bernilai, tapi aku harap engkau menyukainya. Aku pergi dulu, semoga Allah SWT mempertemukan kita kembali dalam keadaan yang baik tentunya”, pamit Farid. Hawa terus menerima pemberian Farid masih dalam kondisi kikuk sembari menatap langkah kepergian Farid, lelaki pertama yang memegang tangannya.
            Tak berlama-lama ia melambungkan lamunannya, ia segera memasukkan kotak kecil berwarna hijau muda cantik dengan hiasan sederhana dan bergegas untuk berkumpul dengan teman-temannya. Seketika perasaannya berubah membaik setelah mendengar rangkaian kata dari Farid.  Dalam hati, ia bertanya-tanya, apa isi dari kotak indah itu, namun dia tak dapat membukanya disini. Tak sabar ingin segera melihat isi dari hadiah tersebut, ia segera pulang ke rumah, bersalaman dengan orang tua kemudian bergegas masuk ke dalam kamar. Perlahan ia mengeluarkan kotak indah itu mencermati dan ketika hendak mulai membuka tiba-tiba ayahnya memanggilnya, reflek dia melempar kotak itu kebawah ranjang dan segera menemui ayahnya.
            Ayahnya mengapresiasi prestasi yang diperoleh karena menjadi lulusan terbaik tahun ini. Ayahnya mengajak sekeluarga liburan ke tempat kakeknya di puncak. Di tempat kakeknya sangat asri dan nyaman, ia sangat senang berada di sana, hingga ia melupakan kado kecil dari Farid. Sekalipun ia pernah teringat, namun ia lupa dimana ia menaruh kotak itu. Terkadang ia menyesali karena lupa dimana ia menaruh kotak itu, seandainya saja kalau dia tau Farid bakal pergi dari desa itu dia tak akan menyia-nyiakan kado pertamanya. Tak tau apa yang harus dia lakukan, dia benar-benar tak mengingatnya, hingga dia jenuh dan tak lagi mencoba mengingat.
            Banyak lelaki yang datang ke rumah Hawa untuk mengkhitbahnya, tapi tak satu pun yang diterima.  Hingga suatu hari, seorang pria bersama keluarga berkunjung ke rumah Hawa untuk mengkhitbahnya. Irul, dia anak dari salah satu orang terkaya di desanya. Sudah lama Irul menyukai Hawa, dan berencana menikahinya setelah Hawa lulus SMA. Dari kecil apa yang diinginkan Irul selalu terpenuhi, hari ini dia ingin melamar Hawa, dan bagaimana pun caranya, keinginannya harus terpenuhi untuk menikahi Hawa. Namun kali ini Sang Kuasa tak meridhainya, Hawa tidak bisa menerimanya begitu saja, hatinya selalu bergejolak kepada seorang lelaki yang sudah lama singgah di hatinya. Tak tau apa yang membuatnya tak bisa melupakan lelaki itu, padahal lelaki itu tidaklah lelaki yang baik. Dengan dirundung rasa kecewa, Irul dan keluarga pun pulang. Pamitan.
            Seakan tak terima dengan kenyataan yang di terimanya hari ini, Irul terus memutar otaknya mencari ide untuk bisa mendapatkan Hawa. Terbesit ide nista yang terbaca dari otaknya untuk menemui dukun di desa seberang. Dukun itu di juluki  Mbah Geni yang terkenal kesaktian di kalangan perdukunan, walaupun dia tak pernah pergi kesana tapi dia tahu dari teman-temannya yang pernah meminta bantuan dan selalu berhasil.
            Tak pikir panjang karena cinta butanya terhadap Hawa, Irul pun pergi ke rumah Mah Geni bersama temannya bernama Dani yang pernah membuktikan  kesaktian Mbah Geni. Sedikit terlihat khayal dengan hal-hal mistis seperti ini, tapi memang begitu adanya. Sesampainya di sana, bulu kuduknya berdiri, rumahnya terlihat menyeramkan, tapi ia memberanikan diri untuk masuk demi keinginannya. Ia bertemu dengan Mbah Geni. Tanpa mengutarakan maksudnya, Mbah Geni telah mengetahui maksud kedatangannya. Tak berlama-lama ia pun kembali ke rumah dan menunggu hasil ikhtiarnya yang tak wajar.
            Sejak hari itu, setiap malam  rumah Hawa selalu disatroni burung hantu. Namun siapa sangka, Si cantik Hawa tak mempan untuk diguna-guna atau pun dipelet. Ia rajin beribadah, tak hanya itu, ia juga dibekali oleh Kyai sekaligus guru ngajinya dengan doa-doa tolak balak. Hingga Allah SWT juga senantiasa menjaga Hawa.
            Walaupun demikian, Irul tak mau berputus asa, terus saja ia menemui Mbah Geni dan meminta bantuan. Memang akal licik dan jahat, selalu saja dukun laknat itu mendapatkan ide busuk. Ia mengincar Hawa ketika Hawa sedang dalam keadaan tidak suci, yaitu pada saat menstruasi. Di saat seperti itulah orang mudah untuk disinggahi bangsa halus. Namun kali ini berbeda dengan tujuan utama, Irul menginginkan hal yang berbeda, membuat Hawa tidak ada yang menyukai lagi, hingga hanya dirinyalah yang menyukainya, setelah menikah, Irul mengembalikan Hawa seperti semula, itulah keinginan picik dari Irul.
            Malam itu, tepat hari lahir Hawa, jum’at kliwon, juga tepat dimana dia haid (menstruasi). Memang Hawa sangat pelupa, dia melupakan amalannya yang harus dibaca dalam hati ketika haid. Tepat jarum jam menunjukkan pukul 12 malam, terdengar hujan lebat dibalik dinding dan gemuruh angin yang dahsyat. Terdengar pula suara-suara aneh yang menyeramkan, ia memanggil-manggil ayah dan ibunya, namun tak ada feedback. Akhirnya ia mencoba untuk memejamkan matanya, namun tiba-tiba ada sesuatu yang berjalan di balik jendela dengan mengeluarkan suara aneh, walau bertambah ketakutan, namun ia tak mau mengganggu istirahat orang tuanya. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali menurunkan kelopak matanya.
             "Shiiuuuuuuutttt…..", dalam terdengar dekat sekali dengan telinganya, tiba-tiba ada burung hantu yang masuk ke dalam kamarnya dari arah yang tak diketahui, padahal tak ada celah yang sekiranya dapat dilewati oleh burung hantu sebesar itu. Kemudian dilihatnya banyak sekali penampakan di kamarnya dengan wajah yang menyeramkan seketika burung hantu tersebut menyambar matanya dan Hawa pun pingsan.
            Pagi harinya, orang tua Hawa bingung dan merasa aneh, karena tak biasanya anak perempuan semata wayangnya tidur sepulas itu hingga belum bangun sampai siang ini. Ibu Hawa segera menghampiri Hawa ke kamarnya, terkaget melihat anak tersayangnya tergeletak di lantai.  
             “Ayah,,,ayah,, anak kita, yah”, teriak ibunya histeris. 
             “Ada apa buk?” Tanya ayahnya tergesa-gesa menuju kamar Hawa, seketika kaget melihat anaknya pingsan, karena sebelumnya Hawa tak pernah pingsan. Dengan sigap ayah Hawa menggendongnya ke atas ranjang, dan membangunkannya. Alhamdulillah, tak berapa lama Hawa sadar, namun hal yang paling mengejutkan. Hawa tak bisa melihat sama sekali. Orang tuanya menangis tersedu-sedu melihat anaknya yang tak bisa melihat seperti semalam.
            Orang tuanya membawanya ke rumah sakit untuk periksa, akan tetapi dokter tak dapat melihat penyebab dari kebutaannya. Hingga dokter menyarankan untuk membawa Hawa periksa ke luar negeri, tapi Hawa menolak karena biaya untuk menjalaninya tak mungkin dijangkau dengan keadaan orang tuanya sekarang ini. Akhirnya dia pun memutuskan untuk tetap berdiam dalam kebutaannya.
            Berkali-kali Irul dan keluarga datang kembali untuk mengkhitbah Hawa, namun lagi-lagi Hawa menolaknya. Di dalam kegelapan yang dialaminya setiap hari, hanya satu lelaki yang dapat di lihat dalam kebutaannya. Keceriannya yang menjadi sinar di rumah tercinta berubah menjadi mendung yang bergelanyut, matanya yang indah terlihat cekung. Wajahnya pun tak menampakkan gairah hidup, meskipun ia mencintai lelaki itu, tetapi ia tak pernah yakin bisa bertemu kembali, apalagi dengan keadaannya yang seperti ini. 
****
            Empat tahun berlalu dengan suram, Hawa menghabiskan hari-harinya dengan berdiam diri di kamar hanya untuk menangis. Suatu ketika ia menyisir rambutnya dan tidak disengaja sisirnya terjatuh, dia berusaha untuk mengambilnya, Ibunya yang memandanginya di pintu membantu untuk mengambil sisir, tetapi ibunya menemukan kotak kecil lusuh penuh debu. Di ambilnya kotak tersebut dan dibersihkan. 
           “Ibu, mana sisirnya?” Tanya Hawa. 
            “Sebentar nak, ibu menemukan kotak kecil lusuh berwarna hijau, apa ini milikmu?” Tanya ibunya. Tak pikir lama, Hawa langsung ingat dengan kotak kecil pemberian Farid. Segera Hawa mengambil kotak itu dan membukanya, ternyata yang membuatnya penasaran selama ini adalah lonceng cantik berbahan gelas bening bermotif  bunga dan bulu yang indah. Terdapat secarik kertas berwarna hijau pula, Hawa ingin ibunya membacakan untuknya.
Assalamu’alaikum Hawa….
            Tak tau dari mana aku memulainya, aku juga tak pernah tau kenapa aku yang brandalan dan bringasan ini berubah menjadi pecundang yang kikuk ketika berhadapan dengan bidadari kesayangan Allah SWT. Hhmm…tak berani aku angkat bicara dihadapanmu. Kau begitu indah, sinarmu silaukan mata ini hingga aku tertunduk kala bertatap muka denganmu. Bertemu denganmu memiliki ‘hawa’ tersendiri, sejak pertama kali bertemu ketika kita SMP, hati ini telah tertunduk padamu. Karenamu aku menundukkan pandangan ini terhadap yang lain.
            Bahkan mutiara hitam pun tak pantas bersanding denganmu. Apalagi aku seoarang brandal sekolah yang keras kepala dengan posisinya yang salah. Aku kira dengan aku yang sok jagoan aku bisa menarik perhatianmu, tapi aku salah besar. Ketika aku mendengar bahwa kau menginginkan seorang hafidz untuk jadi kekasihmu, aku benar-benar terbungkam dan aku malah semakin menjadi anak yang nakal. Pernah dulu aku di hukum di lapangan, berdiri dengan satu kaki dan menghisap sepuluh rokok sekaligus gara-gara aku merokok di waktu kosong, aku sempat melihat kau menangis. GeEr-nya aku mengira kau menangisiku. Tapi tak mungkin.
            Aku beri benda sederhana ini untukmu, kau wanita pertama yang membunyikan lonceng di jantungku, aku berharap kau senantiasa mengingatku kala mendengar  nyanyian dari lonceng itu, lonceng itu akan menemani dan menjagamu untuk menggantikan aku.
            Hawa, perlu kamu ketahui, berapa banyak nyali yang harus aku kumpulkan untuk menulis ini, dan memberikannya padamu. Kali ini aku akan benar-benar mengumpulkan nyali itu untuk kembali padamu. Aku akan pergi dalam beberapa tahun kedepan, maaf aku tak mampu berpamitan langsung, karena inilah caraku. Aku pasti kembali dengan keadaan yang jauh lebih baik dari yang sekarang ini. Aku harap kau bersedia menantiku. Banyak kisah tentangmu yang tak mungkin aku tulis semua, cukup aku simpan dalam sanubari. Bahwa kaulah yang terindah.
            Baru ini yang dapat aku sampaikan padamu, maaf tulisannya dan bahasanya semprawut seperti hidupku…. Heheee.. Jaga dirimu baik-baik wahai titisan Bidadari. Wassalamu’alaikum….
Farid.

             Hawa mendengar dengan khidmat seraya meraba lonceng dengan cermat, menganalisis setiap lekuknya, tak dirasa air matanya jatuh perlahan lewati pipi halusnya yang terlihat tak terawat lagi. 
            “Apakah lelaki ini yang membuatmu menolak semua lamaran yang datang?” Tanya ibunya sembari mengusap air mata buah hatinya. 
           “Bukan Ibu”, jawab Hawa.
           “Lalu, apa arti air mata ini nak..??” Ibunya kembali bertanya. 
           “Aku cuma bersedih, apakah masih ada lelaki yang mencintaiku dengan tulus setelah melihat keadaanku yang seperti ini?” rintih Hawa. 
           “Allah Maha adil nak, pada zaman azali Allah SWT telah menyandingkanmu dengan jodohmu, percayalah bahwa kau bagian dari tulang rusuk pasanganmu, dia akan datang dengan segala ketulusannya dan tak mungkin tertukar”. Jawab sang Ibu sembari membelai rambut indah Hawa. Hawa pun mengangguk faham.
            Semenjak kebutaannya Hawa tak pernah lagi mau bergaul dengan temannya, ia masih terpukul dengan musibah yang di terimanya. Baru setelah ia mendengar surat dari Farid ia mau belajar huruf braile. Teman dekatnya, Si Fira dengan senang hati mengantar Hawa untuk belajar huruf braile dan menemani kemanapun Hawa hendak pergi.
            Waktupun berjalan secepat jarum jam berputar. Malam, pagi, siang, senja, Hawa terus belajar dan tak lupa berdoa. Satu bulan, dua bulan, satu tahun, hingga bertahun-tahun tak lupa belajar dan berdo'a. 
***
            Empat tahun berlalu, Farid kembali ke desa tercintanya dengan perubahan yang luar biasa. Dulu dia yang terkenal brandal jalanan, biang kerok sekolahan, sekarang dia pulang membawa 30 juz Al-Qur’an di luar kepala. Namun terkaget bukan kepalang kala ia melihat dari jauh, Hawa yang berdiri dengan sebatang tongkat, cahaya di dirinya yang redup. Bagai berlian yang kehilangan sinarnya. Tak kuasa melihat wanita yang dipujanya menderita, ia pun teteskan air mata. 
           “Hawa” terdengar suara parau yang tak asing lagi di telinga Hawa.
           “Farid kah itu?” Tanya Hawa penasaran. 
           “iya Hawa, aku Farid. Namun aku bukan Farid Si biang kerok SMA, aku kembali dengan yang jauh lebih baik seperti yang ku janjikan padamu”. Jawab Farid. 
           “Iya kah? Bagaimana kuliahmu, aku dengar kau telah wisuda kemarin, apakah kau banyak berubah?” celoteh Hawa penuh pertanyaan. 
           “Iya, aku banyak berubah, aku bukan Farid yang ingusan nan brandalan lagi. Namun hati tak berubah untukmu Hawa” jawab Farid. 
           “Hmm,,, kau pandai bicara sekarang, tapi sayang aku tak bisa ngobrol lebih lama denganmu, aku harus pergi sekarang.” Hawa berusaha mengalihkan pembicaraan dan beranjak bersama Fira.
            Di perjalanan Fira bertanya mengapa Hawa menghindar dari Farid, lagi-lagi jawaban yang sama di lontarkan si cantik ini, ‘minder’. Ia merasa tak pantas berhadapan dengan Farid dengan keadaan seperti ini apalagi mendengar semua perubahan Farid yang sempat gemparkan semua orang yang hidup di masa lalunya. Hawa senang atas kembalinya Farid, tapi dibalik rasa senangnya terdapat kesedihan yang mencekam jiwa hingga mati rasa untuk menikmati kegembiraan.
            Hampir setiap pagi Farid kirimkan tulisan dengan huruf braile kepada Hawa, dengan semangat Farid juga mempelajari braile. Salah satu isi dari kertas paginya adalah:
Semut cantik..
            Merayaplah di tubuhnya, katakan padanya tentang rasa sayangku yang tulus padanya. Tapi kamu jangan iri dengan kecantikannya yang tundukan jagad, jangan kau rusak kulitnya yang lembut dengan gigitanmu. Dia Peri tanpa sayap yang mampu menerbangkan khayalanku. Ucapkan sapaan selamat pagi juga  untuknya, “Met pagi Princess Hawa”. Setelah tugasmu selesai cepet kembali ya semut. Kalau kelamaan di sana nanti kamu terkena diabetes, efek senyumnya yang sangat manis nggak baik buat kolonimu. Biar aku yang menikmati manis senyumnya titisan Bidadari. Selamat pagi Hawaku….
            Perlahan pemilik senyum monalisa part II ini mulai menemukan cara untuk tersenyum kembali setelah mendapat tulisan-tulisan dari Farid. Fira sahabatnya merasa senang melihat perubahan dari Hawa, Fira juga menceritakan tentang Farid kepada Hawa, karena sebelumya ia berbincang banyak dengan Farid. Tentang Farid yang juga celaka ketika ro’an (kerja bakti) di pondok tepat dihari dimana Hawa mengalami kebutaan, tangan Farid terkena sabit yang hingga sekarang masih ada bekasnya. Mendengarnya Hawa teringat ketika Farid mengalami hukuman berat dari guru BP, Hawa menangisinya. Ternyata Faridlah orang yang selama ini mengganggu hati dan pikiran Hawa. Walaupun Farid kembali dengan memenuhi syarat menantu yang diinginkan ayahnya, namun keadaan sekarang terbalik. Berbeda dengan yang dulu.
            Meskipun Hawa selalu menghindar dari Farid, namun Farid terus berusaha untuk bisa bicara dengan Hawa. Hingga suatu saat mereka bisa bertemu dengan bantuan Fira. Pembicaran khidmat pun dimulai. 
           “Aku tau kenapa kau menghindariku Hawa, tak perlu kau merasa minder denganku, aku menjadi seperti ini karena dorongan batin darimu, kalau kau selalu menghindar dariku, maka aku akan kehilangan salah satu alasanku untuk membenahi akhlak” . Ujar Farid dengan kelembutan. 
            “Apa kamu tidak bisa melihat? Keadaannya beda, aku bukan Hawa yang dulu, buat apa kau mendekatiku? Aku tak akan bisa menjadi istri yang baik untukmu, tak bisa menyuguhkan minuman, masak dan sebagainya, buat apa kau menginginkanku untuk menjadi pendamping hidupmu?” jelas Hawa meninggikan nada bicaranya. 
                “Hawa, dengar aku! Bagiku kau tetap Hawaku, bukan milik siapa pun sekalipun itu nabi Adam as. kau tetap Hawaku yang dulu tak perduli apa pun dan bagaimanapun keadaanmu sekarang ini, kau tetap pemilik hati ini Hawa, wanita pertama yang ku pegang tangannya, wanita pertama dan terakhir bagiku. Aku mencintaimu, dan aku berjanji kepada Allah akan mengkhitbahmu setelah aku kembali ke desa, izinkan aku Hawa. Aku akan mengkhitbahmu dengan khataman Al-Qur’an”.  Jawab Farid meyakinkan Hawa. Mereka berdua terdiam, hanya terdengar isak tangis dari keduanya. Hawa pun tak bisa memungkiri bahwa cintanya adalah Farid.
           Tak menunggu lama, dua hari kemudian Farid beserta keluarga di temani oleh Kyai Zawawi (guru besar Farid) silaturrahim ke rumah Hawa berniat untuk mengkhitbahnya. Melihat Hawa Kyai kondang ini terkaget karena melihat sosok makhluk halus yang selalu mengikuti Hawa, Kyai Zawawi dapat menyimpulkan bahwa kebutaan Hawa adalah hal yang tidak wajar. Segera Kyai Zawawi meminta segelas air putih dan di bacakannya doa-doa kemudian menyuruh Hawa untuk meminum air tersebut. Seketika Hawa merintih kesakitan, dengan penuh rasa khawatir Farid membisikkan kepada Hawa agar senantiasa membaca shalawat. Akhirnya Hawa jatuh pingsan, segera ayah Hawa membawanya ke kamar dan membaringkannya. Farid tak bisa berdiam diri melihat kekasihnya menderita, dia duduk didekat Hawa dengan membaca Al-Qur’an tak henti-hentinya, selama delapan jam Hawa tak sadarkan diri, selama itu pula Farid terus membaca Al-Qur’an hanya istirahat shalat saja. 
               Tepat ketika Farid khatam Al-Qur’an, Hawa sadarkan diri, dengan penglihatannya yang kembali sempurna. Gendam yang diantarkan kepada Hawa kembali kepada pemiliknya, mereka pun tau siapa pelakunya, namun mereka tak mau membalas. Bagi mereka hukuman dari Allah SWT lah yang lebih adil.
            Kegembiraan mereka pun sempurna sudah, Hawa dapat melihat kembali Si tampan Farid dengan kedua permatanya. 
           “Hawa, aku berharap kau akan tetap menjadi Hawaku hingga kehidupan kedua kita, aku yakin Allah SWT telah menyandingkan kita di zaman azali. Kau tetap menjadi istri dan ibu yang sempurna untuk anak-anakku kelak, terimakasih atas penantianmu selama bertahun-tahun”. Kata Farid dengan kebahagiaan yang menggebu.
            Cinta tak harus dinyatakan dengan kata-kata, bila memang jodoh biarkanlah hati yang bicara. Tulang rusuk yang hilang akan kembali pada pemiliknya, tak akan tertukar, tak akan lenyap biarkanlah waktu yang menjawab dengan skenario Allah SWT.


Pati, 13 Juni 2013
dimuat di Koran Jateng Pos

Tidak ada komentar:

Posting Komentar