Aku
Ingin Mengirim Senja
Oleh
: Muhammad Mubarok*
Setetes air
mata.
Sehembus nafas.
Senja tertinggal.
Senja
terpenggal.
Di pinggir kali Jeratun.
Siapa menjemput
Senja?
Sebuah sampan
mengejar Senja.
Yang tak lagi
berhenti.
Sampan menyimpan rindu.
Mendayu-dayu.
Sewarna
jingga.
Warna langit
yang kita punya.
Dimasa lalu.
Lalu dimana
rindu kau simpan?
Ku selalu
menantinya.
Saat senja
berhias mendung.
Senja, telah
kulukiskan.
Getaran nyawa yang berwarna jingga.
Disaat putaran roda menjelang tiba.
Aku ingin
segera.
Mengirim senja
ke Surga.
Sebelum jiwa
lain menantinya.
Menawan Dibalik Senja
Kubiarkan diriku terus berjelaga.
Hingga renta ragaku kian terasa.
Mencoba menyibak tirai itu.
Sesayu apa Senja menutup mata?
Hingga lelah jiwaku makin mendera.
Hingga bosan lisanku makin bersua.
Mencoba mencari jawab.
Dari apa yang tak mampu kujawab.
Mencoba mencari celah.
Dari ruang yang tertutup rapat.
Mencoba memungut tawa.
Dari hujan tangis yang baru reda.
Hingga mampu kurasa.
Bahwa kali ini.
Senja teramat menawan di dada.
Saat langit sayup penuh keteduhan.
Sewaktu gerimis hati perlahan dapat terabaikan.
Menjelang Senja Tiba
Mampukah?
Jika senja
telah tiba.
Yang kulakukan adalah mengingat_Mu.
Yang dulu menggantung harap tentang makna cinta untukku.
Kaulah senja
itu.
Yang hadir kala cinta dibatas waktu.
Pesonamu menawan dalam kemilau menakjubkan.
Dan aku renta
dalam penantianmu.
Kaulah senja
itu.
Begitu hangat memeluk desiran jiwamu.
Tapi kau begitu angkuh meninggalkan bayangmu.
Kau bercinta dengan rembulan.
Kau
tergelincir dalam rengkuhan dewa yang memperdayamu.
Kau tinggalkan bayangmu yang telah tertanam dalam benakku.
Kau tak lagi
menepi dalam samudra jiwaku.
Kini senja
telah tiba.
Dalam usia penantianku.
Kemilau senjamu tetap begitu bermakna.
Tapi kau telah menghapus cintaku.
Kala waktu berganti malam.
Dari
Senja Untukku
Senja?
Kesucianmu seperti surga.
Aura terindah kian kau pancarkan.
Menawan.
Mensucikan ladang jiwaku.
Laksana putihnya rembulan.
Yang datang setiap malam.
Kekhawatiranku menjelma.
Saat datang hujan.
Tak menyuburkan keindahanmu.
Yang pernah terangkai begitu menyatu.
Ku tak tahu kenapa.
Kini cahayamu serak dan membangkai.
Karena puing-puing keangkuhanmu.
Benarkah kau melupankanku?
Bumi Mina Tani, Mei 2013
* Adalah Mantan Ketua FLP Pati,
Mantan Pimred SKM TERMA STAI
Pati.
Kini sebagai Ketua PC.
IPNU Kabupaten Pati dan
Menejer El Madani
Training Center Pati.
Pendiri Buletin TASBIH
Jum’at Pati.
dimuat di Koran Jateng Pos